Bumi dan Matahari

Terkadang kita tidak perlu terlalu mengenal seseorang. Karna bisa jadi ketika kita semakin mengenal seseorang, maka kita akan semakin mudah terluka.

Baik, sekarang akan kuceritakan sebuah kisah yang menggambarkan situasi seperti diawal kalimatku.

Tentang bumi dan matahari.

Dulu sekali, bumi dan matahari tidak saling mengenal. Sampai akhirnya Tuhan mempertemukan mereka.

Seiring berjalannya waktu, sang bumi mulai mengagumi matahari,karna ia bersinar. Hingga semakin lama bumi semakin ingin dekat dengan matahari.

Mereka bergerak makin dekat,dekat dan dekat. Tetapi, semakin bumi mendekatkan diri maka semakin sakit pula yang dirasakan bumi. Tapi bumi tetap bersikeras untuk bergerak mendekati matahari.

Bergerak,bergerak, mendekat dan terus mendekat. Sampai akhirnya bumi berhenti.

Sekarang ia merasakan sakit yang teramat sangat.

Ah ya aku lupa,ada satu tokoh lagi. Ia adalah bulan. Yang selalu berada disisi bumi.

Ketika itu bulan mencoba berbicara dengan bumi.

“Sudahlah, kau lelah, kau kesakitan. Apa kau tak sadar? Semakin kau mendekat pada matahari maka kau semakin terbakar. Mengapa kau terus bergerak mendekat,sementara matahari saja tidak mau meredamkan apinya agar kau tak terbakar saat didekatnya.

Kini bumi bimbang. Rasa-rasanya tak mungkin baginya untuk berhenti. Tetapi, tubuhnya mulai tak tahan menahan sakit.

Jika bumi memilih menjauh,maka bumi akan mati ditelan kesedihan. Tetapi jika bumi tetap bergerak maju, maka ia akan terbakar hangus oleh api milik matahari.

15 April 2019

Malam dan duka

Malam ini,

Ia menangis sekali lagi

Sekali lagi kedukaan menerpa hatinya

Bulir-bulir air kembali tumpah dari matanya

Mengapa malam-malamnya selalu diisi dengen kedukaan?

Mengapa kesedihan selalu melanda hatinya?

Langit malam yang gelap seakan membawa ia kedalam kegelapan pula

Mengapa hangatnya pagi harus berganti dengan dinginnya malam?

Bahkan saat senja mulai hilang, hatinya akan selalu cemas

Apakan akan ada kesedihan lagi malam ini?

Bahkan sesekali ia ingin bertanya.

Apa salahnya?

15 April 2019

Setiap kita punya derita

Sudah saatnya diri tersadar. Bukan, bukan hanya kita yang punya derita. Coba, buka mata dan hati untuk melihat jeritan tak bersuara orang lain.

Seperti gadis kecil bernama Bintang yang ‘dibuang’. Yang hidupnya penuh jerit dan tangis yang tak bisa kau dengar hanya dengan telinga mu.

Tapi sebaris senyum tetap tampak dari bibir mungilnya yang bahkan sudut bibir itu penuh lebam.

Hidup keras yang harusnya tak dirasakan gadis renta seperti ia.

Belia masih. Tetapi tangannya sudah kokoh mencari sedikit uang untuk menyambung hidupnya hari ini.

Tak akan lagi pernah kita dengar tangis hanya karna menginginkan se-cup es krim atau sebuah balon.

Hidup mengajarkannya berbesar hati dan menjadi dewasa diumur belia.

Dengan itu, masihkan kita merasa bahwa derita kita adalah yang paling sakit?

Ingat! Setiap manusia punya deritanya sendiri-sendiri. Tetapi untuk bahagia, kita hanya perlu merasa bersyukur.

Pesan dari Bintang:

“Bersyukur lah, maka akan Bahagia”

Bertemu Bintang

Hari ini, tepat saat Niskala dilahirkan ke bumi 19 tahun yang lalu. Setahun berlalu setelah kejadian di kedai yang mematahkan harapannya. Tapi tidak lagi hari ini, sudah ditinggalkan semua pilunya dihari itu.

Perayaan ulang tahun Niskala 3 tahun terakhir ini dirayakan berbeda. Tidak ada kue, lilin dan kado untuknya. Untuk memperingatinya ia membeli sebuah kado dan diberikannya pada ibunya. Sebagai bentuk terimakasih karena telah melahirkannya.

Dan tepat diusianya ke 19 tahun ini, Niskala diterima di sebuah kantor pusat berita sebagai penulis. Pekerjaan yang dulu adalah profesi ayahnya. Seharian ia habiskan mempelajari hal-hal yang akan ia kerjakam dihari-hari berikutnya.

Kini hidupnya berubah, ia akan bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan sarapan untuknya dan ibunya. Lalu berangkat bekerja dengan kereta. Kemudian pulang disore hari dan mengurus rumah.

16.30 di stasiun.

Sepasang bola mata coklat milik Niskala tak sengaja melihat gadis kecil tengah meringkuk kedinginan. Pakaian nya basah kuyup,karna memang sekarang sedang turun hujan. Selain itu, hal yang paling menarik perhatian Niskala adalah terdapat beberapa luka lebam disepanjang tubuh gadis mungil itu.

“Mau pakai jaketku?” tawar Niskala

“Tidak perlu kak, aku tak kedinginan. Lagi pula aku tidak akan bisa mengembalikannya” jawabnya ramah dengan senyuman.

“Hm.. baiklah. Kau sedang apa disini?” Niskala mencoba mencari tau.

“Aku sedang berjualan koran kak, kakak mau beli?” sambil menyodorkan dagangannya.

“Boleh, kubeli 1”

“Oh iya, namamu siapa anak manis?” sambungnya setelah memberikan beberapa lembar uang.

“Namaku bintang kak” dengan menyunggingkan senyum.

“Kamu tinggal dimana ?”

“Aku tidak tinggal dimana-mana” senyum tetap menghiasi wajahnya

“Lalu dimana kau tidur?” Niskala semakin penasaran tentang nya.

“Aku tidur dimana kakiku berhenti saat malam hari kak. Jika kakiku berhenti distasiun maka aku akan tidur di stasiun” jelasnya.

Sekelemit kalimat itu menusuk masuk sampai kehati Niskala. Iba pastinya. Percekapan panjang itu terus berlanjut sampai akhirnya kereta yang ditunggu Niskala datang.

Didalam kereta percakapan mereka tadi selalu terulang dikepala Niskala. Gadis kecil itu bercerita bahwa ia tidak punya Ayah maupun Ibu. Ia ditinggalkan disebuah panti asuhan saat usianya baru 1 bulan. Dan semenjak panti tempat nya tinggal mengalami kebakaran, ia harus tinggal dijalanan.

Bulir air mata jatuh saat mengingat kisah yang baru saja ia dengar, ketika gadis itu harus tidur tanpa alas, ketika tidak ada uang yang bisa ia belikan makanan,ketika uang hasil bekerjanya dirampas pereman dan tubuhnya habis dipukuli mereka. Tapi ia terlihat sangat bahagia. Senyum manis tak pernah luntur dari wajah manisnya. Senyum yang dapat menular kesetiap orang yang melihatnya.

Seperti namanya,Bintang. Ia bersinar di luas gelapnya langit malam. Setiap kata yang Bintang ucapkan, seperti nasehat untuk Niskala. Saat Niskala bertanya apakah Bintang bahagia, jawabannya diluar dugaan.

“Bahagia atau enggak itu pilihan kita kak. Semewah apapun kalau kita tetap milih untuk gak bahagia,maka selamanya kita gak bahagia. Bagi bintang, kebahagiaan bukan diukur dari berapa banyak uang atau seberapa baik keluarga. Tapi diukur dari hati yang selalu bersyukur. Dan Bintang bersyukur, maka bintang bahagia. “

Hari ini mata Niskala terbuka, ternyata banyak orang yang lebih sakit. Banyak orang yang lebih menderita. Seharusnya ia lebih bersyukur, ia masih punya ibu yang sangat mencintainya. Dan ia pun yakin ayahnya sangat menyayanginya,walau kondisinya sudah berbeda.

-/-

Di stasiun, seorang gadis kecil berambut hitam bernama Bintang sedang terduduk menatap sebungkus roti dan sebuah jaket yang diberikan seorang wanita bernama Niskala. Setetes air mata jatuh, kala hatinya mengucap syukur pada Tuhan.Satu hal yang menjadikan bocah kecil ini sangat kuat dan selalu bahagia, yaitu ‘hati yang bersyukur’

Runtuh

Kau ingat Niskala?Perempuan cantik yang ku ceritakan beberapa saat lalu?

Apa kau mau tau lebih tenang apa yang sebenarnya yang terjadi padanya?

Atau apa alasan mengapa ayahnya menjadi patah pertamanya?Baik, jika ingin tau maka ku lanjutkan ceritanya, tapi jika tidak, kau boleh pergi dari halaman ini.

Hm, Niskala. Ia gadis cantik dan ceria yang dibesarkan dikeluarga yang hangat. Ayahnya seorang penulis berita, dan ibunya mengurus rumah dengan sangat baik. Ayahnya bekerja jauh dari rumah, hinga setiap hari Niskala akan mengantar ayahnya ke stasiun sebelum berangkat sekolah. Dan saat ia pulang, ayahnya sudah berada di rumah, menghabiskan waktu dengan ia dan ibunya.

Sampai dimana suatu hari saat ia pulang dari sekolahnya dan melihat rumahnya seperti kapal pecah. Benda-benda pecah dan berserakan. Dan saat masuk ke kamar orang tuanya, ia temui ibunya sedang duduk di sudut kamar dengan air mata membasahi wajahnya.

Apa yang terjadi?’ tanyanya dalam hati.

Lalu ia mendekati ibunya, mencoba mencari tau apa yang terjadi. Sebelum Niskala angkat suara, ibunya histeris lalu memeluknya erat.

“Ayahmu pergii nak… Dia tidak mencintai kita lagi…”

Kata-kata yang berhasil membuat Niskala terkejut dan tidak percaya.

Apa yang ibu katakan? Ayah mencintai kita bu, dia sangat menyayangiku. Mana mungkin dia pergi. Pasti ibu bohong’ tak ada kata yang sanggup lepas dari bibir nya, hanya terbesit saja dalam fikirannya.

Ia tak percaya, ia beranjak, berusaha mencari sosok ayahnya. Habis tenaganya mencari ke seluruh rumah. Sampai disebuah ruangan, ruang kerja Ayahnya. Dengan langkah takut ia masuk ke sana. Tak ada siapapun. Hanya sebuah surat yang diletak diatas meja tepat didepan figura yang berisikan foto ia dan ayahnya.

Ragu, tapi ia harus tau apa yang terjadi. Dibukanya surat itu dan dibacanya dalam hati.

Anakku Niskala yang cantik. Ayah rasa sekarang kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui semua yang terjadi. Masalah-masalah yang kian hari tak bisa ayah atasi lagi. Ibumu itu selalu marah-marah belakangan ini, karna pekerjaan ayahmu yang semakin lama gajinya tidak cukup untuk menghidupi kalian. Maaf. Ayah pasti mengecewakanmu nak. Tapi ayah harus pergi. Ayah tak bisa terus menerus mendengar ibumu berteriak pada ayah. Anakku yang baik. Ayah mohon jangan benci Ayah. Ayah menyayangimu, tapi sudah tak bisa lagi berada didekatmu. Tapi aku berjanji nak, suatu hari akan pulang. Saat pekerjaan ku sudah membaik nanti. Aku akan kembali, tunggu lah sebentar dan rawat ibumu dengan baik.

-Ayah-

Surat itu, surat yang ditulis ayahnya terakhir kali. Kata-kata yang sempat ditulisnya sebagai kata terakhir mungkin, karna sampai sekarang sudah 2 tahun lamanya, ayahnya tak kunjung pulang.

Selama 2 tahun Niskala merawat ibunya yang sekarang terbaring sakit dengan baik. Selama dua tahun Niskala bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan ibunya. Selama 2 tahun pula dia selalu percaya bahwa Ayahnya akan kembali. Tapi, selama itu ia selalu dikecewakan oleh harapan.

Saat pagi ia mulai harinya dengan harapan bahwa Ayahnya akan kembali hari ini. Dan saat petang, ia selalu menangis kecewa karna Ayahnya tak juga datang. Dan begitu selama 2 tahun ia menjalani kehidupannya.

Begitupun hari ini, Niskala termenung duduk didekat jendela.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya seseorang yang sebenarnya adalah kakak sepupu Niskala, Nikolas.

Tak bergeming…

“Kau masih menunggu Ayahmu?” Pancing Nikolas

“Kau fikir dia akan kembali?”

“Dia tidak akan kembali” sambungnya

“Dia akan kembali, aku percaya itu.” jawab Niskala sambil menyunggingkan senyuman.

“Berhentilah! Sudah cukup Niskala! Sudah cukup! Ayah mu tidak akan pulang! Kau dengar aku! Dia tidak akan pulang” emosinya mulai memuncak mendapati Niskala yang sangat polos dan percaya hal mustahil.

“Dia akan kembali Nikolas, dia sudah berjanji” suaranya tetap tenang.

“Kau fikir dia akan pulang! Bahkan sekarang dia sudah punya keluarga baru. Apa kah fikir dia masih membutuhkan kalian!” kini emosinya sudah di ubun-ubun

“Aku t..tidak percaya” suara Niskala kini terdengar sedikit ragu.

“Kau tak percaya? Sekarang ikut aku ke kota, akan ku tunjukkan kepercayaan mu yang bodoh itu!”

Akhirnya emosi yang cukup besar membuat Nikolas berhasil membawa Niskala ke kota untuk menemui Ayahnya.

“Sudah sampai, ayo turun” titah NikolasKini mereka sampai didepan sebuah kedai kecil yang menjual kopi dan makanan-makanan kecil. Kecil namun terlihat sangat nyaman.

“Kedai siapa ini?” wajar bukan kalau Niskala bingung

“Turun dan masuklah, dan kau akan tau semua yang ingin kau tau.

Baik, sekarang Niskala ragu untuk turun. Perasaannya sangat gugup sekarang. Entahlah, sekarang ia hanya takut jika semua perkataan Nikolas benar.Baru beberapa langkah Niskala turun dari mobil, kini ia terpatung ditempat ia berdiri menatap kedalam kedai yang dalamnya tampak dari luar karna berdindingkan kaca.

Dia dalam sana ia dengan jelas melihat sosok yang ia rindukan selama 2 tahun, sosok yang sangat ia tunggu-tunggu untuk kembali. Ayahnya didalam sana sedang melayani pelanggan.Saat kakinya hendak berlari menuju ayahnya, tiba-tiba keluar sosok wanita yang tengah menggendong bayi melangkah menuju ayah Niskala.

Setetes air mata berhasil lolos ketika dilihat sosok ayahnya tengah bermain bersama seorang bayi dan wanita yang bisa dipastikan mereka adalah keluarga barunya. Perasaan sakit,hancur dan sesak menyeruak ke seluruh tubuhnya. Harapannya selama 2 tahun hancur begitu sampai di tempat ini.

Ia mengurungkan niatnya untuk masuk dan malah berlari entah kemana dengan tangisan yang tertahan di matanya. Ia terus berlari walau tak tau tujuan, lalu ia naik kendaraan umum secara acak yang akhirnya membawanya ke sebuah stasiun.

Kini ia sudah tak tahan, perasaannya semakin menguap minta dikeluarkan. Seketika tangisnya pecah. Hatinya hancur. Menangis sejadi-jadinya ia disana. Tak perduli berapa banyak pasang mata menatapnya iba. Ia hanya perlu menangis sekarang.

Cukup lama ia membiarkan dirinya dalam tangis. Sekarang kesadaran mulai pulih. Di lihatnya tempat ia berpijak sekarang. Stasiun. Tangis kembali pecah ketika ia teringat disinilah ia setiap hari mengantar ayahnya untuk bekerja. Disinilah mereka habiskan untuk berbicara sembari menunggu kereta datang.

Semua kenangan indah sekarang menjadi racun yang hanya akan menghancurkannya,hatinya.Kini ia bangkit, mengusap kasar wajahnya. Sudah cukup, semua penderitaannya selama ini. Ia akan hidup bahagia mulai sekarang. Ia tak akan menunggu lagi.

Seulas senyum tergambar di wajah manis Niskala. Ia tersenyum karena melihat ibunya kini sudah bisa bangkit dari tidurnya. Kini tekatnya hanya memenuhi keinginan ayahnya untuk merawat ibunya dengan baik. Ia tak membenci ayahnya, mungkin tak akan pernah. Ia percaya, Tuhan punya rencana untuk Ayah, ibu dan dirinya.

Sudah habis masanya untuk bersedih, kini waktunya memulai hidup baru. Niskala tau ini tak akan mudah, tapi keyakinannya mengatakan bahwa Sang Pencipta punya banyak nikmat untuk orang-orang yang berusaha.

Pesan dari Niskala :

“Jangan biarkan dirimu hancur bersama ‘rumah’ mu yang kian runtuh

Tentang NISKALA

Niskala,

Nama seorang gadis cantik yang hatinya penuh dengan kehancuran. Gadis cantik yang selalu menampilkan senyuman walau hidupnya penuh dengan kesulitan.

Bagi seorang wanita, ayah adalah cinta pertamanya,bukan?. Tapi bagi Niskala, ayah nya adalah cinta dan patah pertamanya.

Hancur sudah hatinya mengetahui rumah yang dihuninya bertahun dengan penuh kehangatan, akan segera runtuh dalam waktu sekejab.

Tapi baginya, hidup tak akan berakhir saat itu juga. Masih ada esok, masih ada Tuhan. Ia harus hidup bahagia. Ia harus tetap berusaha membuat setidaknya dirinya sendiri menjadi bahagia.

Ia percaya, Penciptanya punya rencana indah. Dan jika hari ini belum indah, maka esok akan jadi lebih indah. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan dalam terpaan cobaan.

Walau kadang kaki lemahnya tak mampu lagi untuk berdiri, tapi ia benar-benar paham, terus menerus terpuruk adalah kesia-siaan.

Hari ini ia tersenyum, hatinya selalu berkata “Esok pasti lebih bahagia”

A, 11 April 2019